Sabtu, 13 Juli 2013

Biografi Nasrudin Hoja



Nasrudin Hoja, adalah figur sufi yang dipercaya hidup sekitar abad ke-13 di Turki. Nasrudin biasanya tampil dengan keledainya yang khas hampir di setiap waktu. Nasrudin Hoja, atau "Hoja" sendiri memiliki arti `guru`. Ketika ia masih muda, ia banyak membuat ulah yang menarik untuk dijadikan pelajaran bagi teman-temannya.
Hingga ia dewasa, ia menjadi seorang yang bijak. Ia hidup di lingkungan biasa dengan permasalahan sehari-hari seperti orang kaya yang sombong, pedagang yang curang, dan tetangga yang kikir. Namun berkat karunia berupa kebijaksanaan, ia bisa mengarahkan dan memberikan mereka pelajaran yang menjadi teladan untuk kita semua.
Dengan kebijaksanaan yang dititipkan padanya pula, ia mampu menyelesaikan masalah yang tampak sangat rumit sekalipun dengan solusi yang sangat sederhana.

Ketika  Timur  Lenk  menguasai  kota  Aq  Syahr,  datang  seorang  pengikut  filsafat.  Ia mengutarakan kepada Timur Lenk, dengan bantuan seorang juru bicara, bahwa ia ingin menguji ulama Aq Syahr. Timur Lenk mengumpulkan seluruh ulama dan berkata pada mereka,  "Seorang  laki-laki  ahli filsafat  ingin menguji  kalian.  Jika tidak seorangpun dapat  menjawab  pertanyaannya,  mereka  menganggap  bahwa  negara  Romawi  tidak memiliki seorang ulama pun, dan bahwa ilmu itu telah sirna. Bila hal itu terjadi, harga diri kalian hilang."

Ulama  Aq  Syahr  lalu  berkumpul  di  suatu  ruangan  khusus  dan  memusyawarahkan masalah tersebut. Mereka agak putus asa memikirkan bagaimana caranya mengatasi bahaya  yang siap menghadang  di hadapan  mereka.  Bahkan  mereka  akan menyewa ulama dari luar daerah untuk menghadapinya, meskipun tempatnya jauh.

Akhirnya  mereka  sepakat  untuk  mengajukan  Syekh  Nashruddin.  Mereka  mengutus seseorang untuk menemuinya, dan Nashruddin pun menerima kedatangan mereka. Lalu diutarakanlah  apa  yang  mengganggu  pikiran  mereka.  Nashruddin  berfikir  sejenak, lantas berkata: "Serahkan urusan ini kepadaku!" Mereka bertanya, "Apa yang akan anda lakukan?" Nashruddin menjawab, "Aku akan mengadakan tanya jawab dengannya. Jika jawabanku tepat, itu bagus. Bila tidak, aku pasti akan berkata 'Aku laki-laki jadzab, aku  masuk  sesuai  kehendak  hatiku'.  Lalu  kalian  hendaknya  berkata,  'Kami  tidak menganggapnya  sebagai  orang  pandai.'  Lalu  datangkan  orang  selain  aku!  Bila  aku berhasil, kalian harus memberiku hadiah." Mereka menjawab, "Baiklah, apapun yang anda inginkan, akan kami usahakan. Yang penting, laki-laki itu harus kalah."

Pada hari yang telah ditentukan, sebuah panggung didirikan di sebuah lapangan yang luas.  Timur  Lenk  duduk  dengan  pakaian  perang  dikelilingi   para  prajurit  yang bersenjata  lengkap.  Laki-laki  ahli  filsafat  itu hadir.  Rambutnya  tidak  menarik  dan bentuknya lucu. Ia lalu duduk di dekat singgasana kerajaan. seluruh hadirin menunggu kedatangan Syekh Nashruddin, rival ahli filsafat itu.

Nashruddin  hadir  dengan  mengenakan  surban  besar  dan  berjubah.  Di  belakangnya mengiringi para muridnya, di antaranya Hamad. Mereka berdua masuk ke panggung dan Nashruddin duduk di sebelah Timur Lenk. Setelah minum dan istirahat sejenak, ahli filsafat itu maju ke tengah dan membuat lingkaran. Ia lalu menunggu jawabannya dengan memandang ke arah Nashruddin.

Nashruddin  berdiri  dan  menancapkan  tongkatnya  tepat  di  tengah  lingkaran.  Ia membagi lingkaran menjadi dua bagian, dan memandang ke arah ahli filsafat. Lalu Nashruddin membuat garis lagi, sehingga lingkaran terbagi menjadi empat bagian. Tiga bagian menuju ke arah Nashruddin dengan isyarat jari dan satu bagian untuk si ahli filsafat.   Nashruddin   meletakkan   kedua   tangannya   di   belakang   punggung   yang diarahkan ke ahli filsafat. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin itu. Ia merasa, bahwa Nashruddin tahu apa yang dimaksudkannya.

Selanjutnya ahli filsafat membuat kedua tangannya dan membentuknya seperti kerah baju. Lalu kedua tangan itu diturunkan dari atas ke bawah dan jari jemarinya terbuka, lalu   kedua   tangannya   dinaikkan   ke  udara   beberapa   kali.   Nashruddin   berbuat sebaliknya:  membuka  jari  jemarinya  dan  diturunkan  ke  bawah.  Ahli  filsafat  puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin.

Setelah  itu,  ahli  filsafat  meletakkan  jari  jemarinya  di  atas  tanah  dan  berjalan
merangkak sebagaimana layaknya binatang. Ia mengisyaratkan ke arah perut, seakan- akan keluar sesuatu dari dalam perutnya. Nashruddin mengeluarkan sebutir telur dari saku dan menggerakkan kedua tangannya seakan hendak terbang.

Melihat jawaban Nashruddin, ahli filsafat itu sangat puas dan kagum. Ia maju ke arah Nashruddin  dan  mencium  tangannya  dengan  penuh  penghormatan.  Ia mengatakan, bahwa  Aq  Syahr  beruntung  mempunyai  seorang  cerdik  pandai  seperti  Nashruddin. Seluruh  hadirin  memberikan  ucapan  selamat  kepada  Nashruddin  dan  memberikan hadiah yang melimpah serta uang banyak. Bahkan ada yang menjanjikan harta benda di lain waktu. Tidak ketinggalan Timur Lenk memberi hadiah kepada Nashruddin dan menempatkannya di kelompok orang kaya.

Setelah semua penonton bubar, Timur Lenk dan para pengawalnya mengelilingi ahli filsafat dan bertanya dengan bantuan juru bahasa, "Kami tidak mengerti isyarat-isyarat yang anda lakukan dengan Syekh Nashruddin. Jelaskan kepada kami apa yang terjadi sebenarnya?"

Ahli filsafat menjawab,  "Melihat  perselisihan  ulama filsafat  Yunani dan ulama Bani Israil tentang terbentuknya alam semesta, saya tidak tahu apa pendapat ulama Islam tentang   hal  tersebut.   Maka  saya  ingin  mempelajarinya.   Saya  isyaratkan   pada Nashruddin bahwa bumi itu bulat dan besar. Nashruddin membenarkan  ucapan saya dan  berkata,  'Bumi  itu terbagi  menjadi  dua bagian.  Setengah  lingkaran  utara  dan setengah belahan selatan.' Lalu Nashruddin membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian ke arahnya dan satu bagian ke arahku. Ia mengisyaratkan, bahwa tiga bagian bumi adalah lautan dan satu bagian daratan. Nashruddin juga memberitahukan bahwa bumi terbagi menjadi tujuh negara.

Lebih lanjut saya isyaratkan isi bumi dan rahasianya dengan mengangkat jari jemari ke udara  dan  menggerakkannya,  maksudku  tumbuh-tumbuhan,   barang  tambang  dan bagaimana   proses   terjadinya.   Syekh   Nashruddin   mengangkat   kedua   tangannya menunjuk  ke  bawah  dan  mengisyaratkan  turunnya  hujan  adalah  ke  bawah,  yang tercurah dari langit. Kekuatan matahari dan pengaruh makhluk angkasa di bundaran bumi membantu proses bumi, sehingga mendatangkan  kekuatan yang terkandung  di dalamnya. Cara Nashruddin menjelaskan hal itu sesuai dengan pendapat ulama filsafat periode akhir. Kemudian aku isyaratkan tentang perkembang-biakan makhluk dengan melalui proses pembuahan. Namun banyak yang terlewatkan olehku, lalu Nashruddin bermaksud menunjukkan sebagian dari makhluk secara global. Karena itu, saya jadi tahu bahwa Syekh kalian memang pandai dan menguasai pengetahuan tentang langit dan bumi, maupun ilmu logika dan ketuhanan. Dan ia termasuk seorang ahli filsafat. Kalian patut bangga dengan adanya ahli filsafat seperti dia di negeri kalian."

Lalu mereka berpamitan kepada ahli filsafat dengan penuh penghormatan. Setelah itu mereka   ganti   menjumpai   Nashruddin   dan   meminta   penjelasan   atas   jawaban- jawabannya. Berkatalah Nashruddin kepada mereka, "Ahli filsafat itu sedang kelaparan seperti halnya diriku. Ketika ia menggambar lingkaran, maksudnya adalah bahwa di depan  rumahnya  terdapat  kue  berbentuk  seperti  lingkaran  yang  dibuatnya.  Aku membaginya menjadi dua bagian dengan maksud agar sama rata. Akan tetapi, karena ia tidak faham, aku membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian untukku dan satu bagian untuknya. Ia setuju dan mengiyakan dengan isyarat kepala.

Selanjutnya, ia mengisyaratkan beras di atas api. Aku isyaratkan kepadanya tentang
memasukkan pula bumbu, garam, kismis, dan fustuq ke dalamnya. Ketika berjalan ia bermaksud memberitahukan  bahwa dirinya sangat lapar dan menginginkan  makanan lezat. Aku isyaratkan kepadanya, bahwa dirku bahkan lebih lapar darinya yang nyaris membuatku  terbang  karenanya.  Pagi  hari  aku  ingin  membuat  kue,  namun  yang kutemukan  hanya  sebutir  telur  pemberian  istriku.  Aku  belum  sempat  menelannya ketika kalian memanggilku. Lalu kumasukkan ke dalam saku dan menjaganya secara hati-hati."

Seluruh hadirin berkata, "Demi Allah, ini hal yang hebat dan menakjubkan! Bagaimana anda mengerti permasalahannya dan menjawab seperti itu? Ahli filsafat menerima dan membenarkan  jawaban  Anda,  padahal  jawaban  Anda  tersebut  tidak  seperti  yang diinginkannya." Demikianlah, mereka semua bergembira dan tertawa riang lalu pulang ke rumah masing-masing. Sekalipun demikian mereka tetap bingung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar