Sabtu, 23 Februari 2013

Analisis Drama "Bapak"

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang     
Drama tergolong jenis karya sastra disamping puisi dan prosa. Karya drama diciptakan pengarang berdasarkan pikiran atau imajinasi, perasaan dan pengalaman hidupnya. Drama sebagai karya sastra merupakan objek yang terikat pada pengarang, realitas, dan penikmat.
Kata drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti action dalam bahasa Inggris, dan ‘gerak’ dalam bahasa Indonesia. Jadi secara mudah drama dapat kita artikan sebagai bentuk seni yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak atau action dan percakapan serta dialog.
Drama yang termasuk dalam karya sastra adalah naskah ceritanya. Sebagai karya sastra, drama memiliki keunikan tersendiri. Dia diciptakan tidak untuk dibaca saja, namun jug harus memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Karya drama sebagai karya sastra dapat berupa rekaman dari perjalanan hidup pengarang yang menciptakannya. Pengarang dapat diilhami pengarang lain, disamping masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Karya drama merupakan tempat kita masuk ke dalam penyatuan secara spiritual dan humanistic dengan pikiran dan kepercayaan pengarang seperti yang diungkap Selden, dalam Sudjarwadi (2005).
Karya drama merupakan karya humaniora. Karya drama merupakan objek manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Fakta drama merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di dalam drama dapat dikatakan benar sebagai dasar sastra yang nyata. Seorang penulis drama memang tidak sebebas penulis karya sastra yang lain, karena dalam menulis drama pengarang harus memikirkan kemungkinan- kemungkinan agar drama itu dapat di pentaskan.
Oleh karena itu, untuk memahami suatu naskah drama seseorang harus mengetahui unsur-unsur intrinsik adan ekstrinsik naskah drama. Dalam makalah ini, mengambil contoh naskah drama yang berjudul “Bapak” karya B. Soetarto Penulis akan membahas perihal unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah tersebut.
I.2 Rumusan Masalah
I.2.1 Bagaimana unsur-unsur intrinsik pada naskah drama “Bapak”?
I.2.2 Bagaimana unsur ekstrinsik pada naskah drama “Bapak”?
I.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
I.3.1 Mengetahui unsur-unsur intrinsik pada naskah drama “Bapak”.
I.3.2 Mengetahui unsur ekstrinsik pada naskah drama “Bapak”.
BAB II PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini, akan diuraikan analisis mengenai unsur-unsur intrinsik naskah drama “Bapak” karya B. Soenarto. Unsur-unsur intrinsik yang akan dibahas yaitu: 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7) latar.. Namun sebelum itu, akan diuraikan sinopsis naskah drama “Bapak”.
2.1 Sinopsis drama “BAPAK” karya B. Soenarto
Drama ini berlatar Kota Yogyakarta tahun 1949. Tokoh Bapak (51 tahun) adalah orang tua tunggal dari tokoh Si Sulung dan Si Bungsu. Drama ini diawali dengan tokoh Bapak yang terkejut oleh kedatangan Si sulung yang telah lama merantau. Situasi Republik saat itu sangat kacau karena tentara kolonial melancarkan agresi militer kedua. Si Sulung memohon Bapak untuk ikut serta dirinya mengungsi ke luar negeri. Akan tetapi Bapak menolak lantaran dalam dirinya timbul tanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air dari tangan penjajah. Selain itu, Bapak juga beralasan, dengan hidup di luar negeri, itu sama artinya dengan tunduk pada penjajah. Ketegangan terus terjadi antara keduanya. Saat Bapak mendengar suara radio pemancar di k amar Si Sulung. Bapak segera mencari tahu ke kamar Si Sulung. Pada saat yang sama, Si Bungsu sedang kedatangan tamu, yaitu Perwira yang merupakan tunangan Si Bungsu. Mereka berdua terkejut mendengar bunyi ledakan pistol dari ruang dalam. Seketika Bapak keluar kamar dan menjelaskan pada Si Bungsu dan Perwira bahwa dirinya telah menembak Si Sulung. Bapak melakukan hal itu karena mengetahui Si Sulung adalah mata-mata tentara kolonial. Walaupun Bapak sungguh kecewa pada Si Sulung, namun demi menyelamatkan Negara, Bapak membunuh putra yang amat disayanginya itu. Akhir drama ditutup dengan keputusan Bapak  untuk tetap tinggal di rumah untuk melawan musuh. Sementara itu Bapak meminta Si Bungsu dan Perwira untuk pergi dari tempat itu.
2.2 Judul
Drama ini diberi judul oleh pengarang dengan kata “Bapak”. Sebab seperti yang dijelaskan Sugiarta dalam Soedjarwadi (2004), judul pada karya fiksi bersifat manasuka, dapat diambil dari nama salah satu tempat atau tokoh dalam cerita, dengan syarat sebaiknya melambangkan isi cerita untuk menarik perhatian. Kata ‘’Bapak” menunjukkan tentang adanya kesesuaian judul dengan tokoh utama, serta objek yang dikemukakan dalam drama keseluruhan. Kata ‘Bapak” dapat diartikan sebagai pelindung dan penanggung jawab serta pemimpin dalam rumah tangga.
2.3 Tema
Setiap karya sastra tentu mengandung tema. Tema menjadi dasar pengembangan cerita dan merupakan makna keseluruhan yang tidak disampaikan langsung, namun secara implisit. Selain itu, tema mengikat pengembangan cerita atau sebaliknya (Nurgiyantoro, 1995).
Berikut ini dikemukakan analisis kajian tema, baik tema mayor ataupun tema minor pada naskah drama”Bapak”. Tema mayor drama ini diambil dari tokoh Bapak yang mengalami konflik dengan Si Sulung.
Sulung             : Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.
Bapak              : Namun kau nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab aku yakin kau akan   mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu. (Lima Drama,1985:107)
Bapak              : Kita sedang dalam keadaan darurat-perang, nak. Dan dalam keadaan begini   bagi seorang prajurit, kepentingan negara ada di atas segalanya.(Lima Drama,1985:104)
Bapak              : Sesungguhnyalah nak, lebih karena itu.
Sulung             : Oo ya?!? Apa itu ya Bapak?
Bapak              : Kemerdekaan.
Sulung             : Kemerdekaan!?! Kemerdekaan siapa!?
Bapak              Bangsa dan bumi pusaka. (Si Sulung ketawa) (Lima Drama,1985:105)
Bapak              : Tidak anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. Kemerdekaan adalah soal harga diri dan kebagsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. (Lima Drama,1985:107)
Bapak              : pembangkanganku dulu, sekarang dan besok bukanlah karena sentimen, tetapi karena keyakinan. Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Keyakinan membangkang penjajah adalah tindakan mulia. Untuk itu aku rela menderita dan korbankan segalanya, nak. (Lima Drama,1985:108-109)
Dari banyaknya dialog antara Bapak dengan Sulung di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Bapak ingin mempertahankan kemerdekaan bangsa walaupun Sulung menolak dan menertawakannya. Dengan demikian tema mayor drama ini adalah seorang patriot tentu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya walaupun harus mengorbankan segalanya. Dan tema minor drama ini ialah seorang anak yang tidak mau membantu ayahnya memperjuangkan bangsa lantaran pemikiran yang berbeda.
2.4 Plot atau Alur
Plot atau alur dalam drama dibagi dalam babak dan adegan. Babak dan adegan inilah yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya. Drama ini berjalan maju. Dalam naskah drama”Bapak” ini, meskipun pada bawah judul tertera lakon dua babak, namun jika dianalisis lebih dalam, seluruh kejadian berlangsung pada satu tempat dan satu waktu. Sedangkan adegan pada drama ini, berlatar ruang tamu sebuah keluarga, awalnya diisi dengan Bapak yang berbicara sendiri mengenai putranya yang baru datang merantau, adegan kedua diisi dengan munculnya Bungsu yang menemani Bapak mengobrol. Adegan selanjutnya Sulung datang dan mulai beradu mulut dengan Bapak. Kemudian Bungsu pergi ke luar. Setelah adu mulut itu, Sulung pergi ke kamarnya, Bapak membuntuti karena curiga mendengar suara radio pemancar. Adegan selanjutnya Bungsu kembali ke ruang tamu karena Perwira datang. Kemudian mereka terkejut dengan suara tembakan. Adegan selanjutnya Bapak muncul dengan pistol dan map-map tebal di tangannya. Perwira pergi ke kamar Sulung dan mendapati Sulung mati. Perwira kembali ke ruang tamu membawa bukti-bukti penghianatan Sulung. Bapak sangat kecewa dan Bungsu menangis. Bapak meminta Perwira membawa pergi Bungsu sedangkan Bapak tetap di rumah dengan perasaan bangga sekaligus kecewa.
2.5 Tokoh cerita dan perwatakan
Tokoh cerita dan perwatakan merupakan unsur intrinsik yang sangat penting. Selanjutnya dilakukan analisis dalam naskah drama “Bapak”. Dalam drama ini, Bapak menjadi dapat disebut sebagai tokoh utama, melihat keterkaitannya dengan lain yang sangat banyak, mulai awal hingga akhir adegan.
Sulung             : Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.
Bapak              : Nak, kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anak-anakku. Bila ada anakku yang yakin masa depannya ada di daerah pendudukan, akan lebih membahagiakan hidupnya, silahkan pergi. Begitulah bila adikmu mantap untuk mengungsi kesana, silahkan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan…. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan TNI yang menjadi dasar timbangrasa, timbang hatinya tapi pengertian cintanya pada bumi pusakanya! (Lima Drama,1985:108)
Bapak              : Apa saja yang kau temukan di sana…
Perwira            : Sebuah alat pemancar-isyarat radio. Dan yang ku bawa ini (Lima Drama,1985:112)
Bungsu            : Abang!
Bapak              : Tak perlu ia diratapi lagi, nak. (Lima Drama,1985:113)
Bapak              : Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu. (Lima Drama,1985:115)
Dari uraian di atas selain Bapak disebut sebagai tokoh utama bapak juga merupakan tokoh protagonis dilihat dari sisi perjuangannya membela bangsa. Dan dari segi perwatakan Bapak termasuk flat character karena tidak mengalami perubahan nasib hingga akhir kisah. Sedangkan tokoh Sulung merupakan tokoh antagonis karena menjadi lawan Bapak dalam cerita ini. Sulung mengalami perubahan nasib, yaitu dia mati dibunuh Bapak. Karena itu, dia disebut juga sebagai round character. Selanjutnya tokoh Bungsu dan Perwira. Bungsu dan Perwira dikatakan sebagai tokoh pembantu. Bungsu adalah adik Sulung, sedangkan perwira adalah prajurit TNI merupakan tunangannya. Dari segi perwatakan, Bungsu dan Perwira mengalami flat character. Tidak ada perubahan nasib.
Bapak              : Ya anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada dirinya sendiri. Tapi, bukankah tadi kau…bersama abangmu?
Bungsu            : Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Sayang sekali kami tidak ketemu mas……
Bapak              : Tunanganmu?
Bungsu            : Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu. (Lima Drama,1985:104)
2.6 Teknik Dialog
Dalam struktur lakon, dialog dapat ditinjau dari segi estetis dan segi teknis. Dari segi estetis, dialog merupakan faktor literer dan filosofis yang mempengaruhi struktur keindahan lakon. Dari segi teknis, dialog biasanya diberi catatan pengucapan yang ditulis dalam tanda kurung. Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dalam cerita ini,  dialog antar tokoh lebih disoroti dari segi teknis. Meskipun ada juga sisi estetisnya, seperti pada percakapan Bapak dengan dirinya sendiri. Namun dialog yang dihadirkan tidak ditulis dalam tanda kurung.
(Si Bungsu dating dengan tersenyum).
Bungsu            : Ah Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri.
(Si Sulung mendatang dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kaca mata hitam. Terus duduk, melepas kaca mata dan meletakkan pesawat potret di meja).
Sulung             : Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya. (Lima Drama,1985:104)
2.7 Konflik
Ada pendapat yang menyatakan bahwa konflik dibagi menjadi dua bagian, yaitu konflik eksternal, meliputi manusia, dengan manusia, masyarakat dan denagn alam sekitarnya. Sedang konflik internal meliputi satu ide dengan ide yang yang lain. Atau yang terjadi dalam batin (Tarigan, 1984:134). Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa konflik ada tiga macam, yaitu konflik mental (batin), konflik sosial, dan konflik fisik. Konflik mental (batin) adalah konflik atau pertentangan antara seseorang dengan batin atau wataknya. Konflik sosial adalah konflik antara seseorang dengan masyarakatnya, atau dengan orang atau pihak lain (Nurgiyantoro, 1995).
Konflik dalam drama ini adalah konflik eksternal dan konflik sosial-dalam hal ini keluarga- yang terjadi antara Bapak dengan Sulung.
Bapak              : Sayang sekali nak, kita tegak pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Tetapi adalah keliru bila kau menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami, nak.
Sulung             : Itu pendapat Bapak? Memang Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian itu.
Bapak              : Nak, keyakinanmu salah. Sadarlah!
Sulung             : Salah bagi Bapak benar bagiku. Dan, aku sadar benar akan itu. Dan dengan penuh kesadaran pula, aku bersedia menganggung segala resikonya. (Lima Drama,1985:110)
Sulung             : Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.
Bapak              : Namun kau nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu. (Lima Drama,1985:107)
Bungsu            :Tapi, kenapa mesti Bapak sendiri yang menghakimi.
Bapak              : Karena, dia anak kandungku pribadi. Karena aku cinta padanya. Ya, karena cintaku itulah, aku tidak rela ia meneruskan langkah sesatnya. Langkah khianatnya, harus ya, wajib dihentikan. Meskipun dengan jalan membunuhnya. Tapi dengan kematiannya aku telah menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Dengan kematiannya, berakhirlah pula kerja nistanya sebagai penghianat. (Lima Drama,1985:114)
Dalam dialog di atas dapat dipahami bahwa konflik yang dialami Bapak sangat keras. Setelah bapak beradu mulut dengan anaknya, Bapak dihadapkan pada kondisi untuk memilih membunuh anaknya atau berkhianat pada bangsanya. Apalagi setelah mengetahui ternyata anaknya adalah seorang mata-mata musuh. Akhirnya Bapak memutuskan untuk membunuh Sulung. Bapak merasa kecewa namun juga bangga.

2.8 Latar
Latar mendukung atau menguatkan tindakan para tokoh cerita. Latar memantapkan peristiwa-peristiwa di dalam cerita atau lakon drama. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu, yang seolah-olah sungguh –sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17).
Latar pada drama ini adalah sebuah rumah di kota Yogyakarta. Di saat kondisi Negara kacau karena serangan tentara kolonial tahun 1949. Latar percakapan tokoh secara keseluruhan terjadi di ruang tamu. Berikut analisis latar secara umum yang terdapat pada prolog.
Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan meerbut kota Republik Indonesia, Yogyakarta.
Pada bagian lain dijelaskan suasana kota yang dipenuhi aktivitas militer
Sulung             : Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya.
Bapak              : Begitulah nak, suasana kota sedang dicekam darurat-perang. (Lima Drama,1985:104-105)
Dengan suasana demikian, juga mendukung konflik dramatik yang berujung pada keputusan Bapak menembak anaknya yang mata-mata musuh. Serta keinginan Bapak untuk tinggal di rumahnya.
Bapak              : Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu. (Lima Drama,1985:115)
(Terdengar ledakan bom-bom menggemuruh, bersusul tembakan meriam-meriam.)
Bapak              : Cepat pergilah! Cepat!
(Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan, cepat-cepat menarik tangan Si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti sejenak di ambang.) (Lima Drama,1985:116).



BAB III PENUTUP
Simpulan yang dapat diambil dari naskah drama “Bapak” ini antara lain,
  1. Untuk mengetahui dan mengapresiasi suatu karya sastra dibutuhkan pengetahuan serta analisis mengenai unsur-unsur pembangun karya tersebut. Unsur pembangun dalaman karya sastra tersebut disebut dengan unsur intrinsik. Dalam drama ini, unsur-unsur intrinsiknya adalah 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7) latar.
  2. Sedangkan untuk mengetahui makna keseluruhan karya tersebut digunakan analisis unsur luaran yang disebut unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang dianalisis dalam naskah ini adalah faktor sosial-politik Indonesia pada masa pasca penjajahan Belanda.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar